Selasa, 07 Juli 2009

HAKEKAT METODE PENDIDIKAN ISLAM

HAKEKAT METODE PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : M.Kholil Asy’ari. S.Ag, M.S.I
A. Pendahuluan
Dalam pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh peserta didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar mmengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh seorang pendidik, baru berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dip[ergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila ia mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum (materi) dan tujuan pendidikan Islam mengandung relevansi ideal dan oprasional dalam proses kependidikan. Oleh karena itu proses kependidikan Islammengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam ke dalam pribadi peserta didik dalam upaya membentuk pribadi muslim yang beriman bertakwa dan berilmu pengetahuan yang amaliah mengacu kepada tuntunan agama dan tuntutan kebutuhan hidup bermasyarakat.
Menurut M.Arifin sebagai salah satu komponen oprasional Ilmu Pendidikan Islam, metode harus mengandung potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formal maupun yang non formal ataupun yang informal.[1]
Dan Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah ada tiga nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam yang akan direalisasikan melalui metode yang mengandung watak dan relevansi tersebut, yaitu : Pertama Membentuk peserta didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadaNya semata; Kedua bernilai educatif yang mengacu kepada petunjuk Al-Qur’an dan Hadits; Ketiga berkaitan dengan motivasi dan kedispinan sesuai dengan ajaran al-Quran yang disebut pahala dan siksaan.[2]
Dalam pendidikan yang diterapkan di barat, metode pendidikan hampir sepenuhnya tergantung kepada kepentingan peserta didik, para guru hanya bertindakak sebagai motivator, stimulator, fasilitator, ataupun hanya sebagai instruktur. Sistem yang cenderung mengarah kepada peserta didik sebagai pusat ini sangat menghargai adanya perbedaan individu para peserta didik. Hal ini menyebabkan para guru hanya bersikap merangsang dan mengarahkan para peserta didik mereka untuk belajar dan mereka diberi kebebasan, sedangkan pembentukan watak, karakter dan pembinaan moral hamper kurang menjadi perhatian guru. Hal ini berakibat pendidikan kurang membangun watak dampak lebih lanjut di tengah masyarakat guru semakin tidak dihormati oleh peserta didiknya.
Sementara itu metode pendidikan Islam sangat menghargai kebebasan individu, selama kebebasan itu sejalan dengan fitrahnya, sehingga seorang guru dalam mendidik tidak dapat memaksa peserta didiknya dengan cara yang bertentangan dengan fitrahnya. Akan tetapi sebaliknya guru dalam membentuk karakter peserta didiknya. Guru tidak boleh duduk diam sedangkan peserta didiknya memilih jalan yang salah.
Selanjutnya untuk menghasilkan out put (lulusan) pendidikan yang memiliki watak, karakter, serta moral maka pendidikan harus diproses dengan perencanaan yang jelas dan pasti sehingga dapat dikerjakan, dan perencanaan itu berisi paket materi pendidikan untuk dapat diajarkan secara intensif, efektif, dan efisien. Kemudian untuk mengajarkan materi pendidikan yang dapat mencapai sasaran yang tepat maka tujuan pendidikan Islam harus jelas[3]. Kejelasan tujuan pendidikan Islam ini sangat dibutuhkan untuk menentukan metode yang tepat. Karena itu makalah ini akan mendiskripsikan apa makna metode dalam pendidikan Islam itu dan bagaimana prinsip umum metode dalam pendidikan Islam, pertimbangan menetapkan metode dalam pendidikan Islam, serta beberapa metode dalam pendidikan Islam
B. Pengertian Metode
Kata metode dalam bahasa Indonesia diadopsi dari kata methodos dalam bahasa Yunani, kata ini terdiri dari kata meta yang berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah; dan kata hodos yang berarti jalan, perjalanan, cara, atau arah. Kata methodos sendiri berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesa ilmiah, atau uraian ilmiah (Anton Bekker, 1984)[4]. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut ditulis method, dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan manhaj atau thariqah dan al-wasilah. Al-thoriqoh berarti jalan, manhaj berarti sistem, dan al-wasilah berarti perantara atau mediator[5]. Dengan demikian kata Arab yang dekat dengan arti metode adalah al-Thariqah. Da di dalam bahasa Indonesia metode bermakna cara pandang yang teratur, terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya) : Cara kerja yang tersistem untuk memudahkan sesuatu kegiatan untuk menempuh sesuatu yang ditentukan. Dan secara leksikal, methode diartikan sebagai way of doing anything[6] yaitu suatu cara yang ditempuh untuk mengerjakan sesuatu agar sampai pada suatu tujuan. Ahmad Tafsir memaknai metode dengan arti cara yang paling tepat dan cepat melakukan sesuatu[7]
Dari pendekatan kebahasaan diatas nampak bahwa metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam makna jalan yang bersifat non fisik. Yaitu jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu kepada cara yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada tujuan yang telah ditentukan. Dan secara terminologis atau istilah kata metode dapat membawa kepada pengertian yang mbermacam-macam sesuai dengan konteksnya..
Selanjutnya dalam pandangan filosofi pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda , misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki. Kegunaanya dapat bergantung pada si pemakai atau pada corak, bentuk, dan kemampuan metode sebagai alat, sebaliknya monopragmatis bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan penggunaan mengandung implikasi bersifat konsisten, sistematis dan kebermaknaan menurut kondisi sasaranya mengingat sasaran metode adalah manusia, sehingga pendidikan dituntut untuk berhati-hati dalam penerapanya.[8]
Para ahli pendidikan memberikan makna metode dengan makna yang beragam antara lain: Pertama Ramayulis memaknai metode sebagai cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.[9] Kedua Hasan Langgulung memaknai metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan[10]; Ketiga Abd. Al-rahim Ghunaimah memaknai metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran; Keempat Athiyah Al-Abrasy memaknai metode adalah jalan yang diikuti untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang segala macam metode dalam berbagai mata peserta didikan; Kelima Ali Al- Jumbalathy dan Abu Al-Fath At-tawanisy memaknai metode adalah cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan maklumat ke otak murid-murid; Keenam Edgar Bruce Wesley memaknai metode adalah rentetan kegiatan terarah bagi guru yang menyebabkan timbulnya proses belajar pada peserta didik atau ia adalah proses yang pelaksanaanya yang sempourna mengahasilkan proses belajar, atau ia adalah jalan yang denganya pengajaran itu menjadi berkesan.[11]
Berdasarkan beberapa makna diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang dipakai oleh guru (pendidik) dalam proses belajar mengajar agar siswa (murid, peserta didik) mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam kurikulum, silabus dan mata pelajaran..

C. Prinsip-prinsip Metode
Metode pendidikan Islam dalam penerapanya banyak menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri, sehingga dalam menggunakan m,etode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan itu hanyalah merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan secara umum antara lain : Pertama Dasar Agama.; Kedua Biologis; Ketiga Dasar Psykologis; dan Keempat Dasar Sosiologis
Menurut M. Arifin ada beberapa metodologis yang dijadikan landasan psikologis yang memperlancar proses pendidikan Islam yang sejalan dengan ajaran Islam.Beberapa prinsip itu antara lain :
a. Prinsip Memberikan Suasana Kegembiraan.
Prinsip ini dapat dirujuk didalam ayat al-Quran dan Hadits antara lain:
߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ã Nà6Î/ العسر ……..[البقرة :185]
Artinya “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al-Baqarah 185)

يسروا ولا تعسروا بشروا ولاتنفروا
Artinya “ Permudahlah mereka dan jangan mempersulit, gembirakanlah mereka dan jangan berbuat sesuatu yang menyebabkean mereka menjauhi kamu
b. Prinsip Memberikan Layanan dan Santunan dengan Lemah Lembut. Sebagaimana Firman Allah :
$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; ….. û,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ
Artinya : “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,…… (QS; Al-Imran ;159)
c. Prinsip Kebermaknaan Bagi Peserta Didik.
Sebagaimana sabda Nabi SAW sebagai berikut :
خا طبواالناس على قدر عقولهم
Artinya “ Berbicaralah kamu kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal pikiran mereka” (al-Hadits )
d. Prinsip Prasyarat
Untuk menarik peserta didik dibutuhkan mukadimah dalam langkah-langkah mengajar. Di dalam al-Quran banyak ayat-ayat yang memberikan prasyarat kepada manusia yang menjadi sasarannya dengan menggunakan kata-kata yang mengandung tanbih ( minta) perhatian yang difirmankan pada awal suatu surat misalnya kata : $O!9# ( Alif laam miim ), üÈÿè‹g!2 ( Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad), üÈýJ!9# (Alif laam mim shaad) dan lain sebagainya yang mengandung makna bahwa firman yang hendak disampaikan Allah kepada manusia adalah amat penting karena mengandung permasalahan baru yang harus mereka perhatikan sepenuhnya.
e. Prinsip Komunikasi Terbuka
Dalam al-quran banyak ayat yang mendorong manusia untuk membuka hati dan pikiranya diantaranya:
ô‰s)s9ur $tRù&u‘sŒ zO¨YygyfÏ9 #ZŽÏWŸ2 šÆÏiB Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ( öNçlm; Ò>qè=è% žw šcqßgs)øÿtƒ $pkÍ5 öNçlm;ur ×ûãüôãr& žw tbrçŽÅÇö7ム$pkÍ5 öNçlm;ur ×b#sŒ#uä žw tbqãèuKó¡o„ !$pkÍ5 4 y7Í´¯»s9'ré& ÉO»yè÷RF{$%x. ö@t/ öNèd ‘@Êr& 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqè=Ïÿ»tóø9$# ÇÊÐÒÈ
Artinya : ” Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”( QS.Al-A’raf ;179).

Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽÇt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur ‘@ä.
y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ
Artinya : “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”.( QS. Al-Isra;36)

f. Prinsip Pengetahuan Baru
Firman Allah yang mendorong manusia untuk menciptakan ilmu-ilmu alam dan biologi dan psikologi antara lain :
óOÎgƒÎŽã\y™ $uZÏF»tƒ#uä ’Îû É-$sùFy$# þ’Îûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ‘,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3tƒ y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« Íky­ ÇÎÌÈ
Artinya : “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.(QS.Al-Fushilat;53)

g. Prinsip Memberikan Model Prilaku Yang Baik
Peserta didik akan berprilaku yang baik jika ada keteladanan yang dipraktekkan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan firman-Nya :
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”. (QS.Al-Ahzab; 21)

ô‰s% ôMtR%x. öNä3s9 îouqó™é& ×puZ¡ym þ’Îû zOŠÏdºtö/Î) tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia..”.(QS.Al-Mumtahanah; 4)
h. Prinsip Praktek Pengamalan Secara Aktif
Firman Allah yang menunjukkan pentingnya mengmalkan pelajaran yang telah dipahami dan hayati antara lain :
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 šcqä9qà)s? $tB Ÿw tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uŽã9Ÿ2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$#
br& (#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ
Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?; Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(QS. As-Shaf ; 2-3)

i. Prinsip Kasih sayang dan memberikan bimbingan serta penyuluhan
!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
Artinya : “ Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.( QS.Al-Anbiya; 107)
Dan menurut Tim Departemen Agama bahwa agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif, maka setiap metode haru memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Memperhatikan kecenderungan –kecenderungan peserta didik.
Prinsip ini memberi landasan bagi guru untuk memberikan kepada peserta didik bahan ajar yang sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki yaitu bakat, minat, lingkungan, dan kesiapan , sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari proses belajar mengajar.
b. Memanfaatkan aktivitas individual para peserta didik.
c. Mendidik melalui permainan atau menjadikan permainan sebagai saran pendidikan.
d. Menerapkan prinsip kebebasan yang rasional di dalam proses belajar mengajar tanpa membebani para peserta didik dengan berbagai perintah atau larangan yang tidak mereka butuhkan.
e. Memberi motivasi kepada para peserta didikuntuk berbuat, bukan menekannya, sehingga dapat berbuat dengan rasa senang.
f. Mengutamakan dunia anak dalam arti memperhatikan kepentingan mereka dengan mempersiapkan mereka untuk kehidupan di masa depan
g. Menciptakan semangat berkooperasi (bekerjasama) antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik lainya, dan guru dengan orang tua.
h. Memberi motivasi kepada para peserta didik untuk belajar mandiri serta memiliki kepercayaan diri untuk melakukan tugas-tugas belajar dan penelitian.
i. Memanfaatkan segala indera peserta didik, sebab pendidikan inderawi merupakan alat menuju pendidikan intelektual.[12]
D. Pertimbangan Menetapkan Metode
Pemilihan metode yang tepat terkait dengan aktivitas pengajaran, dan efektivitas ini dapat dipelajari. Ketepatan penggunaan metode dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain : Pertama Tujuan yang hendak dicapai sebagai tumpuan untuk memberi arah dalam memperhitungkan efektifitas suatu metode; Kedua Kondisi Peserta didik; Ketiga Bahan Pengajaran; Keempat Situasi belajar mengajar; Kelima Fasilitas; Keenam Guru; Ketujuh Partisipasi; Kedelapan Kekuatan dan kelemahan metode.
E. Beberapa Metode
Kalau melihat beberapa prinsip proses pendidikan Islam yang tergambar di dalam ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits, maka dapat ditarik banyak metode pendidikan yang tidak bertentangan dengan metode-metode modern yang diciptakan para ahli pendidikan saat ini. Menurut M.Alawi al Malik bahwa beberapa metode yang digunakan Rasulullah dalam mengajar, mendidik dan berdakwah anatara lain : Pertama metode bilhikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah; Kedua metode bertanya; Ketiga metode penyegaran; Keempat metode mengenal kapasitas; Kelima metode mengalihkan realitas indrawi kepada realitas kejiwaan; Keenam metode peragaan; Ketujuh metode kiasan; Kedelapan metode bertahap; Kesembilan metode mengapresiasi pertanyaan; Kesepuluh mendekatkan realitas abstrak dalam bentuk konkret; Kesebelas metode argumentasi; Keduabelas metode kisah dan cerita; Ketigabelas metode pendekatan perumpamaan; Keempat belas metode mengarahkan kepada pemikiran yang bernilai tinggi[13].
Kemudian menurut Jauhari Muchtar metode pendidikan Islam secara garis besar terdiri dari lima yaitu Pertama metode keteladanan; Kedua metode pembiasaan; Ketiga metode nasehat; Keempat metode memberi perhatian; Kelima metode hukuman[14]. Sementara Ahmad Tafsir[15] menawarkan satu metode untuk membuat peserta didik cepat menjadi manusia yang taat beragama yaitu dengan metode internalisasi yaitu cara mendidik peserta didik tidak hanya mengetahui agama namun bagaimana peserta didik menjadi manusia yang taat beragama. Tawaran itu secara filosofi dijelaskan bahwa pembelajaran apa saja memiliki tiga tujuan yaitu Pertama Tahu, mengetahui (knowing) dimana tugas guru adalah mengupayakan agar peserta didik mengetahui, memahami sesuatu konsep; Kedua Mampu melaksanakan atau mengerjakan yang diketahui (doing); Ketiga Peserta didik menjadi orang seperti yang diketahui itu.artinya dia mampu untuk mengamalkan pengetahuan yang dipahami di dalam kehidupanya (being). Menurut Abudin Nata Al-quran menawarkan berbagai metode dalam proses pendidikan Islam yaitu Pertama metode teladan; Kedua metode kisah-kisah; Ketiga metode nasehat; Keempat metode pembiasaan; Kelima metode hokum dan ganjaran; Keenam metode ceramah(khutbah); Ketujuh metode diskusi; Kedelapan metode lainya yaitu metode perintah dan larangan, metode pemberian suasana , metode secara kelompok, metode intruksi, metode bimbingan dan penyuluhan, metode perumpamaan, metode taubat dan ampunan dan metode penyajian[16].
Dan menurut Abdurahman an-Nahlawi metode pendidikan Islam yang dianggap paling penting dan menonjol adalah Pertama metode dialog qurani dan nabawi; Kedua metode mendidik melalui kisah-kisah qurani dan nabawi; Ketiga metode mendidik melalui perumpamaan qurani dan nabawi; Keempat metode melalui keteladanan; Kelima metode mendidik melalui aplikasi dan pengamalan; Keenam metode melaui ibrah dan nasehat; Ketujuh metode mendidik melalui targhib dan tarhib[17].
Kemudian E. Mulyasa menjelaskan bahwa metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.Dan metode yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran antara lain : Pertama metode demontrasi; Kedua metode inquiri (menyelidiki); Ketiga metode penemuan; Keempat metode eksperimen; Kelima metode pemecahan masalah; Keenam metode karyawisata; Ketujuh metode perolehan konsep; Kedelapan metode penugasan; Kesembilan metode ceramah; Kesepuluh metode tanya jawab; Kesebelas metode diskusi.[18]
Dari beberapa metode yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan diatas, penulis sepakat bahwa untuk menyampaikan materi pendidikan Islam diperlukan berbagai metode yang bervariasi yang disesuaikan dengan materi dan kondisi dari objek didiknya. Karena tidak ada suatu metode yang lebih baik daripada metode yang lain. Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan.

F. Kesimpulan
Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan Islam masalah metode mendapatkan perhatian yang sangat besar. Al-quran dan al-Hadits sebagai sumber ajaran Islam berisi prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk yang dapat dipahami dan diinterpretasikan menjadi konsep-konsep tentang metode.
Selanjutnya tidak ada suatu metode yang lebih baik daripada metode yang lain. Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ada metode yang tepat digunakan terhadap peserta didik dalam jumlah besar; ada pula yang tepat digunakan untuk peserta didik jumlah kecil; ada yang tepat digunakan di dalam kelas dan ada juga yang tepat digunakan di luar kelas. Kadang-kadang guru tampil mengajar lebih baik menggunakan metode ceramah disbanding dengan memberi kebebasan bekerja kepada peserta didik. Kadang-kadang bahan pelajaran lebih baik disamopaikan dengan kombinasi beberapa metode ketimbang dengan hanya satu metode. Sehingga tugas guru adalah memilih metode yang tepat untuk digunakan dalam menciptakan proses belajar mengajar.
Wallahu a’lam bisshawab












DAFTAR PUSTAKA
An-Nahlawi, Abdurahman, Pendidikan Islam di Rumah , sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insani PressCet.IV, 2004)
Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta : Bumi Aksara, edisi I, 1991)
Arifin, M., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996)
Depag.RI, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 2001)
Hornbay, A.S, Oxford Advanced LearnersDictionary of Current English, (tp: Oxford University Press 1963)
Langgulung, Hasan Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta : Pustaka al-Husna, Cet.III. 2003)
Jauhari Muchtar , Heri, Fikih Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, Cet. I. 2005)
Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Omar, Falsafah Tarbiyah al-Islamiyah yang diterjemahkan oleh Hasan Langgulung dengsn judul Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, Cet.I, 1979)
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam I, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, Cet. I, 1997)
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, Cet IV. 2005)
Suhartono, Suparlan, Filsafat Pendidikan,(Yogyakarta: Ar-Ruzz, Cet. I, 2006)
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,Cet.VIII, 2004)
Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islami Integrasi Jasmani,Ruhani dan Kalbu Memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya,Cet.I, 2006)

[1] M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam suatu tunjauanTeoritis dan praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, ( Jakarta : Bumi Aksara,Edisi I, 1991), hlm.,198
[2] M.Arifin, Ilmu Pendidikan ……..hlm.,198
[3] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan,(Yogyakarta: Ar-Ruzz, Cet. I, 2006),hlm.,120
[4]M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta : Bumi Aksara, edisi I, 1991),hlm., 61; lihat dalam Supiana, M.Ag – M. Karman, M.Ag, Ulumul Quran dan Pengenalan Metode Tafsir, (Cet. I, Pustaka Islamika, Bandung, 2002), hlm.,301
[5] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam I, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, Cet. I, 1997), hlm.,92-93
[6]A.S Hornbay, Oxford Advanced LearnersDictionary of Current English, (tp: Oxford University Press 1963), hlm.,533
[7] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,Cet.VIII, 2004), hlm.9
[8] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 97-98
[9] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, Cet IV. 2005) , hlm.3
[10] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta : Pustaka al-Husna, Cet.III. 2003), hlm. 54
[11] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Tarbiyah al-Islamiyah yang diterjemahkan oleh Hasan Langgulung dengsn judul Falsafah Pendidikan Islam,( Jakarta: Bulan Bintang, Cet.I, 1979), hlm.551-552
[12] Depag.RI, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 2001), hlm.89-91
[13]Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, Cet. I. 2005), hlm.,230-236
[14]Ibid. Heri Jauhari Muhtar,…hlm. 18-22
[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami Integrasi Jasmani,Ruhani dan Kalbu Memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya,Cet.I, 2006),hlm., 223-224
[16] Ibid, Abudin Nata, Filsafat Pendidikan …, hlm.,95 -107
[17] Abdurahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah , sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insani PressCet.IV, 2004), hlm., 205
[18] E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung : Remaja Rosdakarya,Cet. IV, 2006),hlm.,107-116

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar